Monday, 15 June 2015

APA YANG DIMAKSUD BERSIKAP TEGAS?


“Berteriaklah keras-keras dan bawalah tongkat yang besar,

Demikian orang menjawab ketika ditanya tentang cara bersikap tegas.


Namun, bersikap tegas bukanlah berteriak, mengancam, atau selalu bertindak sekehendak hati.  Itu adalah sikap agresif


Bersikap tegas adalah pendekatan yang berbeda untuk memenuhi kebutuhan Anda, yaitu dengan memberi tahu orang lain tentang sesuatu yang Anda inginkan dan tidak Anda inginkan dengan cara yang lugas dan percaya diri.  Baik orang yang pasif maupun agresif berhubungan dengan orang lain seolah-olah hanya satu orang yang diperhitungkan, yaitu diri mereka sendiri.  Sebaliknya, orang yang bersikap tegas memperlakukan semua orang dengan adil.


Bersikap tegas adalah ekspresi yang jujur dan tepat mengenai perasaan, opini, dan kebutuhan Anda.  Orang yang tegas mampu memberi tahu orang lain tentang hal-hal yang ingin ia inginkan dan tidak ia inginkan.  Ketegasan berarti kemampuan untuk menyatakan keinginan dengan tenang, apa yang diinginkan atau tidak diinginkan oleh seseorang, dan bagaimana ia ingin diperlakukan.


Berkata YA terus... hanya untuk menyenangkan rekan Anda, padahal di dalam hati berkata TIDAK, Anda jengkel, bahkan sangat disayangkan lagi di belakang rekan Anda, Anda ngedumel bahkan membicarakan rekan Anda, adalah contoh sikap tidak tegas, menyedihkan karena Anda terkesan menjadi korban.


Anda dapat memilih untuk memberi tahu atau tidak memberi tahu orang lain tentang sesuatu yang Anda pikirkan, rasakan, dan yakini.  Anda dapat menerima kritik tanpa kesedihan atau amukan.  Anda tidak membiarkan rasa takut terhadap konflik membungkap Anda, dan siap untuk menerima konsekuensi dari pilihan Anda untuk menyampaikan perasaan dan keinginan Anda.


Bersikap tegas berarti Anda tidak harus membuktikan apapun, tetapi Anda juga tidak berpangku tangan ketika mendapat perlakuan yang tidak semestinya.  Anda menetapkan batasan dan merasa berhak untuk membela diri dari perbuatan semena-mena, serangan, dan permusuhan.


Bersikap tegas juga berarti membuka diri bagi pandangan orang lain walaupun hal itu berbeda dengan pandangan Anda.  Anda tidak berupaya menguasai orang lain, tidak pula takluk pada orang lain.  Anda merasa cukup percaya diri untuk mengambil keputusan dan memikul tanggung jawab atas perkataan dan perbuatan Anda.  Anda tidak menyalahkan orang lain jika segala sesuatu tidak berjalan sesuai kehendak Anda.  Anda dapat memberi dan menerima sanjungan ataupun kritik.


Anda merasa bahwa dunia adalah tempat yang dapat Anda terima dan bahwa Anda sama penting dengan orang lain.  Anda tahu bahwa ada hal-hal yang merupakan hak Anda, demikian pula dengan orang lain.  [bersambung...]


  (“Tidak adalah kalimat yang lengkap.” Annie Lammot)


“Jadilah diri sendiri, dan katakan apa yang Anda rasakan karena orang-orang yang berkeberatan tidak perlu Anda anggap penting, sedangkan orang-orang yang perlu Anda anggap penting justru tidak akan berkeberatan.” Dr. Seus


Bogor, 27 Sya’ban 1436 H

Monday, 20 April 2015

AYAH



Ayah!
Betapa menggetarkannya panggilan itu. Betapa mengharu birukannya nada itu. Betapa menggairahkannya suara patah-patah itu. Selalu ada nuansa baru setiap kali empat huruf itu menguntai menjadi kata dan meluncur dari mulut kecil seorang bocah!

Ayah!
Betapa kata itu memberi saya, dan juga kamu, bahkan kita semua para ayah, gairah kehidupan yang senantiasa mendorong langkah kita untuk melanjutkan perjalanan berat ini, merambah belantara dunia yang kadang tidak bersahabat, atau bahkan memecahkan seonggok karang besar di tengah samudera kehidupan. Setelah kata iman, tak ada lagi kata dalam kamus kehidupan-selain kata ayah- yang mampu mengajari Anda tentang makna pertanggungjawaban yang paling hakiki. Sesuatu yang muncul dengan tulus saat Anda menangkap kesan "diharapkan" dibalik panggilan itu. Sesuatu yang muncul dengan kuat dan elegan ketika Anda merasa menjadi "benteng" proteksi dan perlindungan bagi sejumlah anak manusia. Sesuatu yang dapat mengubah pemujaan Anda terhadap diri sendiri menjadi pengorbanan yang paling tulus ketika Anda harus menjadi perisai bagi beberapa jiwa manusia. Dan tiba-tiba saja Anda telah berada di situ, di depan kata ini: maut! Dan dua butir bola kecil di celah pipi Anda takkan pernah membuatmu sedih, atau bahkan menyentuh perasaan yang begitu kuat menggelora dalam batin: kebanggaan.

Ayah!
Tapi kata itu adalah juga melodi yang paling harmoni dengan getaran obsesi kelaki-lakian kita. Beberapa bagian dari "makna sosial" kelaki-lakian kita takkan pernah terpenuhi sebelum kata itu mengganti kata saya, dan juga Anda, untuk kemudian menjadi panggilan sehari-hari. Mimpi-mimpi superioritas Anda sebagiannya menjadi kenyataan di sini; ketika bocah-bocah kecil itu bergelendotan di lengan kekar Anda, atau ketika istri Anda melakukan sesuatu yang tidak Anda senangi dan Anda mengatakan: Saya tidak suka ini! 

Mungkin Anda bukan seorang penguasa negara, atau seorang jenderal dengan ribuan prajurit atau seorang manager besar dengan ratusan bawahan. Mungkin sekali Anda hanya seorang prajurit biasa, atau seorang bawahan kecil, atau seorang pesuruh. Tapi, rumah -walaupun hanya kontrak- tempat Anda setiap hari dipanggil ayah, adalah wilayah teritorial Anda. Dalam wilayah kecil itu, masih tersisa sesuatu yang bisa memberi Anda rasa berkuasa. Karena Anda adalah ayah. Karena Anda adalah qawwam.

Mungkin posisi dalam pekerjaan Anda tidak menggoda orang banyak untuk selalu memberi Anda seuntai senyum manis di pagi hari. Bahkan sebaliknya, Andalah yang harus setiap saat mengobral senyum untuk memberi kesan hormat, untuk memuaskan rasa berkuasa atasan Anda, dan untuk mempertahankan posisi Anda, yang sebenarnya sudah sempit dan sumpek. Tapi, di sini dalam wilayah teritorial Anda tadi, Anda berhak mendapat senyum dan ciuman tangan sebelum Anda berangkat ke tempat kerja, untaian doa-doa sepanjang Anda di perjalanan dan tempat kerja, dan sebuah senyum manis ketika Anda mengetuk pintu rumah Anda di sore hari. Anda memang berhak mendapatkan itu. Karena Anda seorang Ayah. Juga karena Anda memang sangat membutuhkannya, sebab ia menciptakan keseimbangan sosiopsikis dalam diri Anda, memberi Anda proteksi psikologis, memaknai kehadiran sosial Anda sebagai manusia dan membuat Anda merasa lebih berharga. Anda membutuhkan perasaan-perasaan seperti itu, sesuatu yang akan menghilangkan rasa lelah dalam jiwa dan raga Anda, sama seperti ketenangan malam yang menghilangkan sengatan matahari siang

Ayah!
Itulah kata yang mengajari Anda makna hakiki dari pertanggungjawaban, memberi Anda semua kebutuhan Anda akan rasa bangga, makna kehadiran sosial, obsesi kelaki-lakian, superioritas, rasa berkuasa. Itu ketika Anda memaknai kata itu dengan perilaku dan pola sikap yang balance dengan semua janji psikologis yang tersimpan di baliknya. Dan kita semua membutuhkan itu. Agar kita kuat mengarungi lautan kehidupan, agar kita tegar menerjang gelombang samudra, agar kulit perasaan kita tidak terbakar oleh sengatan matahari, agar telapak kaki kita tetap teguh melewati duri-duri, agar mata hati kita selalu dapat memandang lebih jauh dari batas kaki langit, agar ingatan kita mengenang sore di pagi hari dan mengenang pagi di sore hari; semua agar kita mampu memberi sesuatu bagi yang lain. Kata itu memberi kita begitu banyak. Tapi semua yang diberikannya itu adalah sesuatu yang mebuat kita sanggup memberi. Sebab kita bukan lilin. Sebab kita adalah manusia. Sebab pecahan-pecahan diri kita adalah jiwa, adalah rasa, adalah raga.  Dan ketika Anda tidak mendapatkan itu, Anda akan merasakan betapa sulitnya mencari sumber lain yang dapat memberikan Anda sesuatu yang telah diberikan oleh Sang Ayah. Kekayaan akan menjadi ancaman ketika Anda memiliki dan menikmatinya sendiri. Popularitas akan berbalik menjadi bumerang ketika Anda harus menanggung bebannya seorang diri. Anda tidak akan pernah kuat mendayung perahu kehidupan ini seorang diri. Bumi besar ini akan berubah menjadi penjara kesepian yang akan mencampakkan Anda pada sunyi yang panjang tak berujung.

Ayah!
Kata itulah yang memungkinkan Anda menemukan "sahabat-sahabat" setia yang akan menemani Anda menikmati kekayaan Anda di saat Anda hidup dan setelah Anda mati. Kata itulah yang akan menciptakan "pengagum-pengagum" abadi ketika popularitas Anda sedang menanjak dan ketika semua mencemoohkan Anda. Kata itulah yang mebuat Anda merasa "diterima'.

Ayah!
Dan ketika laki-laki modern enggan menjadi kata itu, maka kata itu juga enggan menjadi mereka. Ketika mereka menolak janji-janji kata itu, menganggapnya sebagai gerbang menuju neraka, menganggapnya sebagai pintu penjara, kata itu justru enggan membantu mereka melepaskan diri dari jeratan kesendirian, membasuh kulit mereka yang melepuh akibat sengatan matahari.  Kata itu jadi enggan menyediakan dermaga tempat mereka menambat perahu hati, berlabuh dari galau kehidupan. Satu-satu laki-laki modern itu mati tertusuk sembilu sepi. Dan padi-padi kuning yang dulu menyiur melambai, kini gugur satu-satu. Dunia kita telah menjelma menjadi tanah tandus yang retak, rumah-rumah kita menjadi sarang hantu yang begitu menyeramkan. Takkan pernah ada diantara mereka yang sanggup bertahan lama. Setiap jengkal tanah yang kita lewati adalah mayat. Dan ketika mayat-mayat telah habis, kitalah yang akan menjadi jengkal tanah baru yang akan dilalui oleh mereka yang ditakdirkan hidup. Bumi kita bukan lagi firdaus. Ia telah menjelma menjadi kuburan tanpa batas.

Di ujung jengkal tanah itu, ketika tak ada lagi ada sisa mayat, ketika sebentar lagi ia akan menjadi sejengkal tanah, seorang laki-laki tua dari tanah Egypt, aktor dunia yang kini bermukim di Perancis, berujar perlahan: "Ambillah segenap kekayaan dan popularitasku, tapi berikan aku seorang anak, biarkan tangisnya memecah sunyi dalam jiwaku. Aku ingin jadi ayah!" Omar El Syarif, lelaki tua itu, seperti menyampaikan pesan dari dunia lain......

(dari buku: Biar Kuncupnya Mekar Jadi Bunga, Penulis:Muhammad Anis Matta, Pustaka Ummi, Jakarta)


Monday, 13 April 2015

Narasi Muhammad


“Aku bisa berdoa kepada Allah untuk menyembuhkan butamu dan mengembalikan penglihatanmu. Tapi jika kamu bisa bersabar dalam kebutaan itu, kamu akan masuk surga. Kamu pilih yang mana?”


Itu dialog Nabi Muhammad dengan seorang wanita buta yang datang mengadukan kebutaannya kepada beliau, dan meminta didoakan agar Alloh mengembalikan penglihatannya. Dialog yang diriwayatkan Imam Bukhari dari Ibnu Abbas itu berujung dengan pilihan yang begitu mengharukan: “Saya akan bersabar, dan berdoalah agar Alloh tidak mengembalikan penglihatanku.”


Beliau juga bisa menyembuhkan seperti Nabi Isa, tapi beliau menawarkan pilihan lain: bersabar. Sebab kesabaran adalah karakter inti yang memungkinkan kita survive dan bertahan melalui seluruh rintangan kehidupan. Kesabaran adalah karakter orang kuat. Sebaliknya, tidak ada jaminan bahwa dengan bisa melihat, wanita itu akan bisa melakukan lebih banyak amal saleh yang bisa mengantarnya ke surga. Tapi di sini, kesabaran itu adalah jalan pintas ke surga. Selain itu, penglihatan adalah fasilitas yang kelak harus dipertanggungjawabkan di depan Alloh, karena fasilitas berbanding lurus dengan beban dan pertanggungjawaban. Ada manusia, kata Ibnu Taimiyah, lebih bisa lulus dalam ujian kesulitan yang alatnya adalah sabar ketimbang ujian kebaikan yang alatnya adalah syukur.


Nabi Muhammad juga berperang seperti Nabi Musa. Bahkan Malaikat Jibril pun pernah meminta beliau menyetujui untuk menghancurkan Thaif. Tapi beliau menolaknya. Sembari mengucurkan darah dari kakinya beliau malah balik berdoa: “Saya berharap semoga Allah melahirkan dari tulang sulbi mereka anak-anak yang akan menyembah Allah.”


Muhammad bisa menyembuhkan seperti Isa. Juga bisa membelah laut seperti Musa. Bahkan bulan pun bisa dibelahnya. Muhammad punya dua jenis kekuatan itu: soft power dan hard power. Muhammad mempunyai semua mukjizat yang pernah diberikan kepada seluruh Nabi dan Rosul sebelumnya. Tapi beliau selalu menghindari penggunaannya sebagai alat untuk meyakinkan orang kepada agama yang dibawanya. Beliau memilih kata. Beliau memilih narasi. Karena itu mukjizatnya adalah kata: Al-Qur’an. Karena itu sabdanya pun di atas semua kata yang mungkin diciptakan semua manusia.


Itu karena narasi bisa menembus tembok penglihatan manusia menuju pusat eksistensi dan jantung kehidupannya: akal dan hatinya. Jauh lebih dalam daripada apa yang mungkin dirasakan manusia yang kaget terbelalak seketika menyaksikan laut terbelah, atau saat menyaksikan orang buta melihat kembali


Sumber: Anis Matta, Tarbawi Press

Monday, 30 March 2015

RAHASIA KEAJAIBAN


Lelaki tua itu akhirnya merenggut takdirnya.  Roket-roket Yahudi mungkin telah meluluhlantakkan tubuh lumpuhnya.  Tapi mereka keliru.  Sebab nafas cintanya telah memekarkan bunga-bunga jihad di Palestina.  Sebuah generasi baru tiba-tiba muncul ke permukaan sejarah dan hanya tahu satu kata: JIHAD.  Dan darahnya yang tumpah setelah fajar itu, adalah siraman Alloh yang akan menyuburkan taman jihad di bumi para nabi itu.  Dan tulang belulangnya hanya akan menjadi sumbu yang akan menyalakan api perlawanan dalam jiwa anak-anak Palestina.


Syaikh Ahmad Yasin, lelaki tua dan lumpuh itu, adalah keajaiban cinta.  Ia hanya seorang guru mengaji.  Tetapi beliau lah sesungguhnya bapak spiritual yang menyalakan api jihad di Palestina.  Ia tahu, perjuangan Palestina telah dinodai para oportunis yang menjual bangsanya.  Tapi ia tetap harus melawan.  Dan lumpuhnya bukan halangan.  Maka ia pun meniupkan nafas cintanya pada bocah-bocah Palestina yang ia ajar mengaji.  Dari tadarus Alquran yang hening dan khusyu’ itulah lahir generasi baru di bawah bendera HAMAS.  Palestina memang belum merdeka.  Tapi ia telah merampungkan tugasnya:perang telah dimulai.  Ketika akhirnya ia syahid juga, itu hanya jawaban Alloh atas doa-doanya.



Sejarah adalah catatan keajaiban dan cinta adalah rahasianya.  Cinta adalah saat kegilaan jiwa.  Begitu cinta merasuki jiwamu, kamu jadi gila.  Begitu kamu gila, energimu berlipat-lipat, lalu membulat, mendidih bagai kawah yang siap meledak dan membakar semua yang ada di sekelilingnya.  Begitu energimu meledak, keajaiban tercipta.  Begitulah naturanya:keajaiban-keajaiban yang kita temukan dalam sejarah tercipta dalam saat-saat jiwa itu.


Legenda keadilan Umar bin Khattab adalah keajaiban.  Tafsirnya adalah cintanya pada Alloh dan rakyatnya telah menjadi roh kepemimpinannya.  Legenda perang Kholid bin Walid adalah keajaiban.  Tafsirnya juga begitu:karena ia lebih mencintai jihad ketimbang tidur bersama seorang gadis cantik di malam pengantin.  Hasan Al-Banna adalah legenda dakwah yang melahirkan kebangkita Islam modern.  Tafsirnya juga begitu: Ia lebih mencintai dakwahnya di atas segalanya.

Saat cinta adalah saat gila.  Saat gila adalah saat keajaiban.  Bumi bergetar saat sejarah mencatat keajaiban itu.  Iqbal menyebut saat cinta itu sebagai saat jiwa jadi sadar-jaga.


Apabila jiwa yang sadar-jaga terlahir dalam raga, maka persinggahan lama ini, ialah dunia, gemetar hingga ke dasar-dasarnya.






Tulisan Anis Matta dalam Serial Cinta, Tarbawi Press

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Senyum Gaza