Saturday, 17 June 2017

Menunggu Bapak Pulang demi Zakat Fitrah (kisah Bapak Chairul Tanjung

Suatu hari malam takbiran saat saya masih kelas dua SMP.  Waswas menunggu bapak yang belum pulang juga.   Saya sendirian menunggu beliau di ujung gang seraya berdoa semoga beliau kali ini membawa uang untuk membayar zakat fitrah kami sekeluarga.

Nanar melihat euforia malam takbiran.  Teman-teman sebaya sudah bergembira, beberapa diantaranya bahkan menyewa becak keliling kota.

Beberapa kali air mata ini sempat menetes, sangat sesak rasanya.  Ada tetangga yang memperhatikan dan sempat akan memberi kami zakat, saya tolak.  “Ya Alloh, kami masih kuat berdiri .  Meski tidak punya uang, kami masih mampu mencari,” saya pikir.

Alhamdulillah, menit-menit terakhir menjelang sholat Id, bapak akhirnya pulang dan memberikan sejumlah uang untuk membayar zakat kami sekeluarga.  Pukul 03:30 pagi saya bangunkan pengurus masjid yang tengah lelap dalam tidurnya dan menyerahkan uang itu.  Setelah itu lega luar biasa.  Langsung bergegas ke masjid untuk sholat Id meski tanpa pakaian baru seperti teman-teman lainnya. “Allohu Akbar! Tuntas sudah kewajiban kami, ya Alloh”

Terus terang kejadian itu masih membayang hingga kini dan tidak akan mungkin lupa hingga kapan pun.  Malam takbiran tahun 1984, saat masjid di Batutulis membagikan zakat, saya pun melakukan hal yang sama.  Rezeki yang didapat di kampus sebagian saya belikan beberapa paket beras, lantas dibagikan di pinggir jalan Batutulis 6.

Kejadian yang tak terlupakan dan membekas saat masih kecil itu kemudian menjadi landasan kehidupan saya berikutnya.  Keputusan untuk melaksanakan Program Bank Mega Berbagi pada saat krisis ekonomi tahun 1998 juga antara lain didasarkan pada pengalaman batin yang saya alami waktu kecil.

Friday, 19 May 2017

PERBEDAAN SIBUK DAN PRODUKTIF ?

Apa bedanya sibuk dan produktif? Yuk kita bahas... ✍🏻

Orang sibuk ingin terlihat bahwa dia memiliki tujuan. Orang produktif memang memiliki tujuan dalam hidupnya. Beda lho ya...

Orang sibuk menyembunyikan tujuan hidup mereka dan menutupinya dengan selalu tampil dengan percaya diri atas tindakan kecil yang dilakukannya, sedangkan orang produktif mungkin terlihat ragu dalam tindakan kecil yang dilakukannya, namun dia memiliki tujuan yang jelas. Jelas beda banget...

Orang sibuk memiliki banyak prioritas. Orang produktif memiliki sedikit prioritas...

Orang sibuk melakukan semuanya secara bersamaan karena tidak memiliki prioritas, sehingga pada akhirnya tidak ada hal yang diselesaikan.



Orang produktif mengerjakan satu persatu pekerjaannya sesuai prioritas sehingga dia mampu menyelesaikan apa yang harus diselesaikan.


Orang sibuk berkata “ya” dengan cepat. Orang produktif perlu berpikir dahulu sebelum berkata “ya”

Hehehe.... Mulai deh mikir, selama ini kita sebenarnya SIBUK atau PRODUKTIF? 🙄

Orang sibuk selalu mengiyakan permintaan orang lain tanpa memperdulikan yang telah menjadi tanggungan dirinya, sedangkan orang produktif perlu berpikir sebelum berkata ya, karena mereka lebih memilih berkata tidak agar pekerjaan yang dimilikinya tidak terbengkalai serta menghindari mengecewakan orang lain.

Orang sibuk berfokus pada tindakan. Orang produktif fokus pada kejelasan sebelum bertindak.

Orang sibuk selalu fokus pada kerja, kerja, dan kerja. Orang produktif selalu mengevaluasi apa yang dilakukan setiap harinya.

Orang sibuk menaruh dirinya pada semua pilihan, orang produktif membatasinya.

Orang sibuk selalu bercerita betapa sibuknya dia. Orang produktif tidak terlalu banyak omong, karena hasil lah yang berbicara....

Orang sibuk itu multi-tasking. Orang produktif fokus pada satu pekerjaan.

Orang sibuk ingin orang lain juga sibuk. Orang produktif ingin orang lain bekerja efektif.

Orang sibuk lebih menilai pada aktifitas orang lain yang “terlihat” sibuk. Orang produktif lebih menghargai output, yang penting beres!

Orang sibuk lebih memilih bercerita apa yang AKAN dia lakukan, sedangkan orang produktif lebih berhati-hati atas hal tersebut, dia memilih untuk bercerita tentang apa yang TELAH dia lakukan, apa yang TELAH dia pelajari, dan apa yang TELAH dia hasilkan.

Nanti Saya akan begini...
Nanti Saya akan begitu...
Nanti Saya akan ngelakuin ini...
Nanti Saya akan ngelakuin itu...

PRETTT! 😒


Terakhir...

Orang produktif mengerjakan satu per satu pekerjaan hingga selesai. Orang sibuk ketika mengerjakan tugas, dia aktifkan HP-nya, sambil membaca status, scrolling2 timeline, membalas email, membalas WhatsApp, LINE, hingga tugasnya terbengkalai.

Orang produktif, membiarkan handphonenya tidak tersentuh hingga dia memutuskan untuk rehat atau menyelesaikan tugasnya. #JLEB!

(dari Buku "Ramadhan lebih produktif untuk penulis kreatif"ikhwah semoga Romadhon tahun ini lebih produktif beramal sholeh)

Tuesday, 9 May 2017

TERLENA (sebuah puisi karya Buya HAMKA)

TERLENA
                                                                (karya: Buya HAMKA)




Waktu berlalu begitu pantas menipu kita yang terlena

Belum sempat berzikir di waktu pagi, hari sudah menjelang siang, Belum sempat bersedekah pagi, matahari sudah meninggi.

Niat pukul 9.00 pagi hendak shalat Dhuha, tiba-tiba azan Zuhur sudah terdengar..

Teringin setiap pagi membaca 1 juz Al-Quran, menambah hafalan satu hari satu ayat, itu pun tidak dilakukan.

Rancangan untuk tidak akan melewatkan malam kecuali dengan tahajjud dan witir, walau pun hanya 3 rakaat, semua tinggal angan-angan.

Beginikah berterusannya nasib hidup menghabiskan umur? Berseronok dengan usia?

Lalu tiba-tiba menjelmalah usia di angka 30, sebentar kemudian 40, tidak lama terasa menjadi 50 dan kemudian orang mula memanggil kita dengan panggilan "Tok Wan, Atok...Nek..kakek" menandakan kita sudah tua.

Lalu sambil menunggu Sakaratul Maut tiba, diperlihatkan catatan amal yang kita pernah buat....

Astaghfirullah, ternyata tidak seberapa sedekah dan infak cuma sekadarnya, mengajarkan ilmu tidak pernah ada, silaturrahim tidak pernah buat.

Justeru, apakah roh ini tidak akan melolong, meraung, menjerit menahan kesakitan di saat berpisah daripada tubuh ketika Sakaratul Maut?

Tambahkan usiaku ya Allah, aku memerlukan waktu untuk beramal sebelum Kau akhiri ajalku.

Belum cukupkah kita menyia-nyiakan waktu selama 30, 40, 50 atau 60 tahun?

Perlu berapa tahun lagikah untuk mengulang pagi, siang, petang dan malam, perlu berapa minggu, bulan, dan tahun lagi agar kita BERSEDIA untuk mati?

Kita tidak pernah merasa kehilangan waktu dan kesempatan untuk menghasilkan pahala, maka 1000 tahun pun tidak akan pernah cukup bagi orang-orang yang terlena.

Monday, 15 June 2015

APA YANG DIMAKSUD BERSIKAP TEGAS?


“Berteriaklah keras-keras dan bawalah tongkat yang besar,

Demikian orang menjawab ketika ditanya tentang cara bersikap tegas.


Namun, bersikap tegas bukanlah berteriak, mengancam, atau selalu bertindak sekehendak hati.  Itu adalah sikap agresif


Bersikap tegas adalah pendekatan yang berbeda untuk memenuhi kebutuhan Anda, yaitu dengan memberi tahu orang lain tentang sesuatu yang Anda inginkan dan tidak Anda inginkan dengan cara yang lugas dan percaya diri.  Baik orang yang pasif maupun agresif berhubungan dengan orang lain seolah-olah hanya satu orang yang diperhitungkan, yaitu diri mereka sendiri.  Sebaliknya, orang yang bersikap tegas memperlakukan semua orang dengan adil.


Bersikap tegas adalah ekspresi yang jujur dan tepat mengenai perasaan, opini, dan kebutuhan Anda.  Orang yang tegas mampu memberi tahu orang lain tentang hal-hal yang ingin ia inginkan dan tidak ia inginkan.  Ketegasan berarti kemampuan untuk menyatakan keinginan dengan tenang, apa yang diinginkan atau tidak diinginkan oleh seseorang, dan bagaimana ia ingin diperlakukan.


Berkata YA terus... hanya untuk menyenangkan rekan Anda, padahal di dalam hati berkata TIDAK, Anda jengkel, bahkan sangat disayangkan lagi di belakang rekan Anda, Anda ngedumel bahkan membicarakan rekan Anda, adalah contoh sikap tidak tegas, menyedihkan karena Anda terkesan menjadi korban.


Anda dapat memilih untuk memberi tahu atau tidak memberi tahu orang lain tentang sesuatu yang Anda pikirkan, rasakan, dan yakini.  Anda dapat menerima kritik tanpa kesedihan atau amukan.  Anda tidak membiarkan rasa takut terhadap konflik membungkap Anda, dan siap untuk menerima konsekuensi dari pilihan Anda untuk menyampaikan perasaan dan keinginan Anda.


Bersikap tegas berarti Anda tidak harus membuktikan apapun, tetapi Anda juga tidak berpangku tangan ketika mendapat perlakuan yang tidak semestinya.  Anda menetapkan batasan dan merasa berhak untuk membela diri dari perbuatan semena-mena, serangan, dan permusuhan.


Bersikap tegas juga berarti membuka diri bagi pandangan orang lain walaupun hal itu berbeda dengan pandangan Anda.  Anda tidak berupaya menguasai orang lain, tidak pula takluk pada orang lain.  Anda merasa cukup percaya diri untuk mengambil keputusan dan memikul tanggung jawab atas perkataan dan perbuatan Anda.  Anda tidak menyalahkan orang lain jika segala sesuatu tidak berjalan sesuai kehendak Anda.  Anda dapat memberi dan menerima sanjungan ataupun kritik.


Anda merasa bahwa dunia adalah tempat yang dapat Anda terima dan bahwa Anda sama penting dengan orang lain.  Anda tahu bahwa ada hal-hal yang merupakan hak Anda, demikian pula dengan orang lain.  [bersambung...]


  (“Tidak adalah kalimat yang lengkap.” Annie Lammot)


“Jadilah diri sendiri, dan katakan apa yang Anda rasakan karena orang-orang yang berkeberatan tidak perlu Anda anggap penting, sedangkan orang-orang yang perlu Anda anggap penting justru tidak akan berkeberatan.” Dr. Seus


Bogor, 27 Sya’ban 1436 H

Monday, 20 April 2015

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Senyum Gaza